Detik7news.com / SURABAYA - Pagi di warkop Simokerto, Surabaya terasa berbeda. Matahari baru naik, tapi halaman Giras Warkop di pinggir jalan Simokerto mulai ramai para pembeli.
Babinsa Kelurahan Simokerto berdiri bersama jajaran Kecamatan Simokerto dan perangkat Kelurahan Simokerto. Pandangan mereka tertuju ke satu titik: tiang bendera.
Sang Saka Merah Putih yang setiap hari berkibar di sana kini terlihat berbeda. Warna merahnya sudah pudar. Putihnya kusam terkena debu dan hujan. Di ujungnya ada sobekan kecil, bekas diterpa angin Surabaya selama berbulan-bulan.
"Kalau bendera sudah tidak layak, wajib kita ganti," ucap Babinsa. Suaranya tenang, tapi tegas.
Bagi seorang Babinsa, bendera bukan sekadar kain. Itu simbol. Simbol perjuangan, pengorbanan, dan persatuan. Membiarkannya berkibar dalam kondisi lusuh sama saja mengabaikan makna itu.
Dengan hati-hati tiang bendera diturunkan. Bendera lama diturunkan perlahan dan digantikan dengan bendera yang baru.
Bendera yang lusuh itu dilipat rapi. Nanti akan disimpan dan dimusnahkan sesuai aturan, dengan hormat.
Giliran bendera baru. Warnanya masih cerah. Merah menyala, putih bersih. Saat dikibarkan, angin pagi langsung menyambutnya. Bendera itu naik perlahan, lalu berkibar gagah.
Suasana hening sejenak. Di tengah hiruk pikuk kota, momen kecil ini mengingatkan semua orang: mencintai Indonesia dimulai dari hal sederhana.
"Kegiatan ini rutin kita lakukan bersama tiga pilar," jelas perwakilan dari Kecamatan Simokerto. "Bukan hanya soal ganti bendera. Tapi juga mengajak warga untuk selalu menghargai simbol negara."
Babinsa Simokerto menambahkan, "Harapannya warga juga ikut menjaga. Kalau lihat bendera di lingkungan RT/RW sudah kusam, mari sama-sama kita ganti."
Kegiatan ditutup dengan foto bersama di bawah kibaran bendera baru. Wajah-wajah sumringah. Bukan karena seremoni, tapi karena merasa ikut merawat kehormatan bangsa.
Di Simokerto Surabaya, hari itu Merah Putih kembali berkibar layak. Dan semangat kebangsaan pun ikut dikibarkan lagi.
Merah Putih bukan untuk dikagumi saja. Tapi untuk dijaga
(Nns)
Editor : Korwil Jatim